Kabut Asap Karhutla Makin Pekat, Warga Kabupaten Sambas Keluhkan Sesak Napas dan Krisis Air Bersih
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, semakin pekat. Kondisi ini tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai berdampak pada kesehatan warga serta ketersediaan air bersih.
Pantauan di kawasan Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Sabtu (12/9/2026) sore, kabut asap tampak menyelimuti permukiman warga dan kawasan aliran sungai. Jarak pandang terlihat menurun drastis sehingga pemandangan di seberang sungai tampak samar tertutup kabut.
Kondisi tersebut juga terjadi di tengah cuaca yang relatif kering. Warga mengaku sudah sekitar tiga bulan terakhir jarang turun hujan, sehingga persediaan air bersih semakin terbatas.
“Sudah kurang lebih tiga bulan jarang hujan. Air bersih sekarang mulai sulit,” keluh salah seorang warga.
Selain persoalan air bersih, kabut asap juga mulai dirasakan dari sisi kesehatan. Sejumlah warga mengeluhkan sesak napas, mata perih, dan rasa tidak nyaman saat berada di luar rumah akibat udara yang dipenuhi asap.
Sebelumnya, data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kabupaten Sambas menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Pada 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, ISPU tercatat 218 dengan parameter kritis PM2.5, yang masuk kategori sangat tidak sehat. Nilai PM10 juga tercatat 133.
Kondisi kabut asap ini terjadi seiring meluasnya karhutla di sejumlah wilayah Kabupaten Sambas. Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat karhutla menyusul kebakaran yang terjadi, antara lain di Kecamatan Jawai, Teluk Keramat, Paloh, dan Galing.
Masyarakat kini menghadapi persoalan ganda. Di satu sisi, kabut asap mengganggu kesehatan dan jarak pandang, sementara di sisi lain minimnya hujan dalam beberapa bulan terakhir turut memperburuk ketersediaan air bersih.
Warga berharap penanganan karhutla dapat segera dilakukan secara maksimal dan distribusi air bersih diperluas ke wilayah yang mulai mengalami kesulitan air.
Dengan kondisi jarak pandang yang terus menurun, masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan saat bepergian, khususnya pengguna kendaraan yang melintas di kawasan terdampak kabut asap.
Kabut asap dan krisis air bersih kini menjadi persoalan serius yang dirasakan langsung masyarakat Kabupaten Sambas. Penanganan cepat diperlukan agar dampak karhutla tidak semakin meluas, terutama terhadap kesehatan dan kebutuhan dasar warga.(Amr/LNS)



0 Komentar